Welcome Comments Pictures
TERIMA KASIH SUDAH BERKUNJUNG MUDAH-MUDAHAN BISA BERMANFAAT

ASUHAN KEBIDANAN NIFAS DAN MENYUSUI ELIMINASI DAN KEBERSIHAN DIRI



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta keluar dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan semula sebelum hamil.Biasanya berlangsung selama lebih kurang 6-8minggu.
Setelah melahirkan ibu,mengalami perubahan fisik dan fisiologis yang juga mengakibatkan adanya beberapa perubahan psikis.Tidak heran bila ibu mengalami perubahan perilaku dan sesekali merasakn kerepotan.Masaa ini adalah masa rentan dan terbuka untuk bimbingan dan pembelajaran.
B.     Rumusan Masalah
1.  Bagaimana eliminasi (BAK/BAB) pada ibu nifas?
2. Personal Hygine/Kebersihan diri


BAB II
PEMBAHASAN
A.      ELIMINASI
1.  ELIMINASI BAK
Dalam 6 jam ibu nifas harus sudah bisa BAK secara spontan, kebanyakan ibu bisa berkemih spontan dalam waktu 8 jam. Urine dalam jumlah yang banyak akan di produksi dalam waktu 12-36 jam setelah melahirkan. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam waktu 6 minggu. Selama 40 jam pertama nifas (peurperium),terjadi kenaikan diuresis sebagai akibat dari pengurasan volume daah ibu dan autolisis serabut otot uterus. Kondisi ini akan kembali normal setelah 4 minggu post partum. Pada awal post partum, kandung kemih mengalami edema, kongesti dan hipotonik. Hal ini disebabkan oleh adanya overdistensi pada saat kala II persalinan dan pengeluaran urin yang tertahan selama proses persalinan. Sumbatan pada uretra di sebabkan oleh adanya trauma saat persalinan berlangsung dan trauma ini dapat berkurang setelah 24 jam post partum




Hendaknya BAK dapat di lakukan sendiri secepatnya setelah persalinan, vesika urinaria dicek setelah proses berkemih
A.    Gangguan BAK pada ibu nifas
·         Retensi PP dapat disebabkan :
1.      Tekanan intra abdominal berkurang
2.      Otot-otot perut masih lemah
3.      Odeme dari uretra
4.      Dinding kandung kencing kurang sensitif
·         Infeksi saluran kemih
1.      Urine yang tertahan
2.      Kateterisasi yang tidak steril
·         Sistisis (cystitis)
Radang kandung kemih
·         Bendungan kandung kemih
Akibatnya timbul gangguan pada kontraksi rahim, sehingga pengeluaran cairan vagina tidak lancar
B.     Cara mengatasi
Retensi urine
sebaiknya dipasang duer catheter atau indwelling cateter untuk memberi istirahat pada otot-otot kandung kencing, sehingga otot-otot cepat pulih dan fungsinya cepat kembali.
Tujuan
Memperlancar pengeluaran urine
Manfaat
Supaya ibu dapat berkemih secara lancar dan maksimal
Infeksi saluran kemih
Menganjurkan ibu untuk tidak menahan saat ingin berkemih, tidak melakukan kateterisasi agar bisa merangsang ibu untuk berkemih sendiri, menjaga kebersihan diri
Tujuan
Mencegah terjadinya infeksi saluran perkemihan pada ibu
Manfaat
Agar ibu terhindar dari infeksi saluran kemih
  Sistisis (radang kandung kemih)
Menganjurkan ibu menjaga kebersihan diri, khususnya daerah genetalia.
·         Mengajarkan cara cebok yang benar dari depan ke belakang
·         Mengganti pembalut apabila merasa sudah penuh.
·         Menganjurkan pasien untuk mengosongkan kandung kemih secara komplit setiap kali kemih.
       Tujuan
Agar ibu terasa nyaman dan dapat mengurangi atau terhindar dari infeksi

          Manfaat
Daerah genitalia ibu terhindar dari infeksi, bisa mengosongkan kandung kemihnya secara maksimal
Blader training
          Adalah latihan yang dilakukan untuk mengembalikan tonus otot kndung kemih agar fungsinya kembali normal.
Tujuan :
·         Melatih kiien untuk melakukan BAK secara mandiri
·         Mengembalikan tonus otot dri kandung kemih yang sementara waktu tidak ada pemasangan kateter.

2. ELIMINASI BAB
BAB biasanya tertunda selama 2-3 hari, karena edema persalinan, diit cairan, obat-obatan analgetik, dan perinem yang sangat sakit. Bila lebih dari 3 hari belum BAB bisa diberikan obat laksantia. Ambulansi secara dini dan teratur akan membantu dalam regulasi BAB. Asupan cairan yang adekuat dan diit tinggi serat sangat dianjurkan.




A.       Gangguan pada BAB
·         Konstipasi
Biasanya karena luka bekas episiotomi, ibu merasa tidak nyaman saat BAB karena takut kesakitan, bila terjadi 2-3 hari PP masih normal dikarenakan adanya pengaruh hormon kehamilan (progesteron).
·         Obstipasi
Biasanya feses keras
B.       Cara mengatasi
·         Konstipasi
Bisa dikurangi dengan mobilisasi dini, makanan tinggi serat, dan cukup minum, psikologis nyeri (-) => dapat dilakukan 3-4 hari PP.
·         Tujuan
Untuk melancarkan BAB
·         Manfaat
Bisa terhindar dari gangguan kontraksi uterus
·         Obstipasi
Bisa menggunakan obat peroral atau perrectal untuk melunakkan feses
·         Tujuan
Agar feses lunak dan Untuk mengurangi rasa nyeri saat BAB.
·         Manfaat
Agar BAB bisa lancar dan ibu menjadi nyaman saat BAB.
B. PERSONAL HYGINE
Pengertian Personal Hygine
Personal Hygiene berasal dari bahasa Yunani yaitu personal yang artinya perorangan dan hygiene berarti sehat. Kebersihan seseoang adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseoran untuk kesejahteraan fisik dan psikis.
Tujuan Melakukan Personal Hygine
1. Meningkatkan derajat kesehatan seseorang
2. Memelihara kebersihan diri seseorang
3. Memperbaiki personal hyiene yang kurang
4. Mencegah penyakit
5. Menciptakan keindahan
6. Meningkatkan rasa percaya diri
Kebutuhan Personal Hygine Ibu Nifas
Kebersihan diri ibu membantu mengurangi sumber infeksi dan meningkatkan perasaan nyaman pada ibu. Anjurkan ibu unutuk menjaga kebersihan diri dengan cara mandi yang teratur minimal 2 kali sehari, mengganti pakaian dan alas tempat tidur serta lingkungan dimana ibu tinggal.
Ibu harus tetap bersih, segar dan wangi. Merawat perineum dengan baik dengan menggunakan antiseptik (PK / Dethol) dan selalu diingat bahwa membersihkan perineum dari arah depan ke belakang.
Jaga kebersihan diri secara keseluruhan untuk menghindari infeksi, baik pada luka jahitan maupun kulit.
a.Pakaian
Sebaiknya pakaian terbuat dari bahan yang mudah menyerap keringat karena produksi keringat menjadi banyak. Produksi keringat yang tinggi berguna untuk menghilangkan ekstra volume saat hamil. Sebaiknya, pakaian agak longgar di daerah dada sehingga payudara tidak tertekan dan kering. Demikian juga dengan pakaian dalam, agar tidak terjadi iritasi (lecet) pada daerah sekitarnya akibat lochea.
b.Kebersihan rambut
Setelah bayi lahir, ibu mungkin akan mengalami kerontokan rambut akibat gangguan perubahan hormon sehingga keadaannya menjadi lebih tipis dibandingkan keadaan normal. Jumlah dan lamanya kerontokan berbeda-beda antara satu wanita dengan wanita yang lain. Meskipun demikian, kebanyakan akan pulih setelah beberapa bulan. Cuci rambut dengan conditioner yang cukup, lalu menggunakan sisir yang lembut. Hindari penggunaan pengering rambut.
c.Kebersihan kulit
Setelah persalinan, ekstra cairan tubuh yang dibutuhkan saat hamil akan dikeluarkan kembali melalui air seni dan keringat untuk menghilangkan pembengkakan pada wajah, kaki, betis, dan tangan ibu. oleh karena itu, dalam minggu-minggu pertama setelah melahirkan, ibu akan merasakan jumlah keringat yang lebih banyak dari biasanya. Usahakan mandi lebih sering dan jaga agar kulit tetap kering.
d.Kebersihan vulva dan sekitarnya.
·          Mengajarkan ibu membersihkan daerah kelamin dengan cara membersihkan daerah di sekitar vulva terlebih dahulu, dari depan ke belakang, baru kemudian membersihkan daerah sekitar anus. Bersihkan vulva setiap kali buang air kecil atau besar.
·          Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya dua kali sehari. Kain dapat digunakan ulang jika telah dicuci dengan baik dan dikeringkan di bawah matahari atau disetrika.
·         Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya.
·          Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk menghindari menyentuh luka, cebok dengan air dingin atau cuci menggunakan sabun.
Perawatan luka perineum bertujuan untuk mencegah infeksi, meningkatkan rasa nyaman dan mempercepat penyembuhan. Perawatan luka perineum dapat dilakukan dengan cara mencuci daerah genital dengan air dan sabun setiap kali habis BAK/BAB yang dimulai dengan mencuci bagian depan, baru kenudian daerah anus. Sebelum dan sesudahnya ibu dianjukan untuk mencuci tangan. Pembalut hendaknya diganti minimal 2 kali sehari. Bila pembalut yang dipakai ibu bukan pembalut habis pakai, pembalut dapat dipakai kembali dengan dicuci, dijemur dibawah sinar matahari dan disetrika.
 Akibat Ibu Tidak Menjaga Personal Hygiene :
·          Ibu Mudah Sakit
·          Ibu terlihat kotor/ kurang bersih
·          Bayi ibu sakit
·          Ibu kurang percaya diri
·          Ibu mengalami infeksi


          BAB III
       PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dalam 6 jam ibu nifas harus sudah bisa BAK secara spontan, kebanyakan ibu bisa berkemih spontan dalam waktu 8 jam. Urine dalam jumlah yang banyak akan di produksi dalam waktu 12-36 jam setelah melahirkan. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam waktu 6 minggu. Selama 40 jam pertama nifas (peurperium),terjadi kenaikan diuresis sebagai akibat dari pengurasan volume daah ibu dan autolisis serabut otot uterus. Kondisi ini akan kembali normal setelah 4 minggu post partum. Kebutuhan Personal Hygine Ibu Nifas
Kebersihan diri ibu membantu mengurangi sumber infeksi dan meningkatkan perasaan nyaman pada ibu. Anjurkan ibu unutuk menjaga kebersihan diri dengan cara mandi yang teratur minimal 2 kali sehari, mengganti pakaian dan alas tempat tidur serta lingkungan dimana ibu tinggal.

B. SARAN
Semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, begitu juga dengan penulis. Bila dalam pembuatan Makalah ini ada kekurangan, penulis mengharapkan kritikan dan saran dari pembaca guna penyempurnaan Makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA

1.     Suherni S.pd, APP, M.Kes. DKK. 2009, Perawatan Masa Nifas, Fitramaya, Yogyakarta.
2.    Ai Yeyeh Rukiyah, S.S1.T, MKM. DKK, 2013, Asuhan Kebidanan III (Nifas), Trans Info Media, Jakarta.
Akademi Kebidanan Makassar, 2008, Asuhan kebidanan III (Nifas), Yayasan Pendidikan Makassar, Makassar.

Kebutuhan Dasar Ibu Nifas Ambulasi



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Persalinan merupakan proses yang melelahkan, itulah mengapa Ibu disarankan tidak langsung turun ranjang setelah melahirkan karena dapat menyebabkan jatuh pingsan akibat sirkulasi darah yang belum berjalan baik. Ibu harus cukup beristirahat, dimana Ibu harus tidur terlentang selama 8 jam post partum untuk mencegah perdarahan post partum. Setelah itu, mobilisasi perlu dilakukan agar tidak tcrjadi pembengkakan akibat tersumbatnya pembuluh darah Ibu.
Pada persalinan normal, jika gerakannya tidak terhalang oleh pemasangan infuse atau kateter dan tanda-tanda vitalnya juga memuaskan, biasanya Ibu diperbolehkan untuk mandi dan pergi kc wc dcngan dibantu, satu atau dua jam setelah melahirkan secara normal. Sebelum waktu ini, Ibu diminta untuk melakukan latihan menarik nafas yang dalam serta latihan tungkai yang sederhana dan harus duduk serta mcngayunkan tungkainya dari tepi ranjang.
Pasien Sectio Caesarea biasanya mulai ‘ambulasi’ 24-36 jam sesudah melahirkan. Jika Pasien menjalani analgesia epidural, pemuiihan sensibilitas yang total harus dilakukan dahulu sebelum ambulasi dimulai. Setelah itu Ibu bisa pergi ke kamar mandi. Dengan begitu sirkulasi darah di dalam tubuh akan berjalan dengan baik. Gangguan yang tidak diinginkan pun bisa dihindari.
Peran bidan sangatlah dibutuhkan ibu sebagai pembimbing dan pemberi nasehat demi kesehatan ibu dan anak nya.Ibu biasanya akan mengalami atau merasakan hal-hal yang baru setelah melahirkan.Beberapa ibu setelah melahirkan akan mengalami masa-masa sulit ibu akan berpengaruh dengan lingkungan sekitarnya.Ibu akan mulai beradaptasi dengan hal yang baru seperti adanya bayi.
Tidak sedikit bayi tidak terselamatkan baik dalam waktu kehamilan,persalinan,maupun setelah dilahirkan.Ibu yang bayi nya tidak terselamatkan akan mengalami kesedihan yang mendalam.Maka dari itu bidan sangat berperan dalam masalah ini untuk memberikan asuhan kepada ibu.

B.     Rumusan Masalah
1.      Pengertian Ibu Nifas ?
2.      Ambulasi pada ibu nifas ? 


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian  Ibu Nifas
Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta keluar dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan semula sebelum hamil.Biasanya berlangsung selama lebih kurang 6-8minggu.
Setelah melahirkan ibu,mengalami perubahan fisik dan fisiologis yang juga mengakibatkan adanya beberapa perubahan psikis.Tidak heran bila ibu mengalami perubahan perilaku dan sesekali merasakn kerepotan.Masaa ini adalah masa rentan dan terbuka untuk bimbingan dan pembelajaran.
B.      Ambulasi
           Ambulasi dini (early ambulation) ialah kebijaksanaan agar secepat mungkin bidan membimbing ibu post partum bangun dari tempat tidurnya dan membimbing ibu untuk cepat berjalan.Sekarang tidak perlu menahan ibu post partum terlentang ditempat tidurnya selama 7-14 jam setelah melahirkan. Ibu post partum sudah diperbolehkan bangun dari tempat tidur dalam 24-48 jam post partum
Ambulasi perlu dilakukan agar tidak terjadi pembengkakan akibat tersumbatnya pembuluh darah Ibu. Pada persalinan normal, jika gerakannya tidak terhalang oleh pemasangan infuse atau kateter dan tanda-tanda vitalnya juga memuaskan, biasanya Ibu diperbolehkan untuk mandi dan pergi ke wc dengan dibantu, satu atau dua jam setelah melahirkan secara normal. Sebelum waktu ini, Ibu diminta untuk melakukan latihan menarik nafas yang dalam serta latihan tungkai yang sederhana dan harus duduk serta mengayunkan tungkainya dari tepi ranjang. Pasien Sectio Caesarea biasanya mulai ‘ambulasi’ 24-36 jam sesudah melahirkan. Jika Pasien menjalani analgesia epidural, pemuiihan sensibilitas yang total harus dilakukan dahulu sebelum ambulasi dimulai. Setelah itu Ibu bisa pergi ke kamar mandi. Dengan begitu sirkulasi darah di dalam tubuh akan berjalan dengan baik. Gangguan yang tidak diinginkan pun bisa dihindari.
PENGERTIAN AMBULASI
                                                                      Ambulasi adalah latihan yang paling berat dimana pasien yang dirawat dirumah sakit dapat berpartisipasi kecuali dikontraindikasikan oleh kondisi pasien.
                                                                      Hal ini harusnya menjadi bagian dalam perencanaan latihan untuk semua pasien. Ambulasi mendukung kekuatan, daya tahan dan fleksibelitas. Keuntungan dari latihan berangsur-angsur dapat di tingkatkan seiring dengan pengkajian data pasien menunjukkan tanda peningkatan toleransi aktivitas. Menurut Kozier (1995 dalam Asmandi, 2008) ambulasi adalah aktivitas berjalan. Ambulasi dini merupakan tahapan kegiatan yang dilakukan segera pada pasien paska operasi dimulai dari duduk sampai pasien turun dari tempat tidur dan mulai berjalan dengan bantuan alat sesuai dengan kondisi pasien.
TUJUAN AMBULASI
1.                               Untuk memenuhi kebutuan aktivitas
2.                              Memenuhi kebutuhan ambulasi
3.                              Mempertahankan kenyamanan
4.                              Mempertahankan toleransi terhadap aktivitas
5.                              Mempertahankan control diri pasien
6.                              Memindahkan pasien untuk pemeriksaan

TINDAKAN - TINDAKAN AMBULASI
a.      Duduk diatas tempat tidur
·      Jelaskan pada pasien prosedur yang akan dilakukan
·      Anjurkan pasien untuk meletakkan tangan disamping badannya
·         Berdirilah di samping tempat tidur, kemudian meletakkan tangan pada bahu pasien
·      Bantu pasien untuk duduk dan diberi penopang atau bantal
b.      Turun dan berdiri dari temapt tidur
·   Jelaskan pada pasien prosedur yang akan dilakukan
·   Fleksikan lutut dan pinggang anda
·   Letakkan kedua tangan pasien di bahu anda dan letakkan kedua tangan anda di samping kanan kiri pinggang pasien
·   Ketika pasien melakukan ke lantai, tahan lutut anda pada lutut pasien
·   Bantu berdiri tegak dan jalan sampai ke kursi
·   Bantu pasien duduk di kursi dengan posisi yang nyaman
c.      Bantu berjalan
·      Jelaskan pada pasien prosedur yang akan dilakukan
·      Letakkan tangan pasien di samping badan atau memegang telapak tangan anda
·      Berdiri di samping pasien serta pegang telapak dan lengan tangan pada bahu pasien
·      Bantu pasien untuk berjalan perlahan-lahan
d.     Memindahkan pasien dari tempat tidur ke branchard
·   Jelaskan pada pasien prosedur yang akan dilakukan
·   Atur branchard dengan posisi terkunci
·   Bantu pasien dengan dua sampai tiga orang dengan berdiri menghadap pasien
·   Silangkan tangan pasien di depan dada
·   Tekuk lutut anda kemudian masukkan tangan ke bawah tubuh pasien
·   Orang pertama meletakkan tangan di bawah leher, orang kedua meletakkan tangan di bawah pinggang dan panggul dan orang ketiga meletakkan tangan di bagian kaki
·   Angkat bersama-sama dan pindahkan ke branchard
·   Atur posisi pasien di branchard yang nyaman
Alat-alat yang digunakan dalam pelaksanaan ambulasi

1.     Kruk adalah alat yang terbuat dari logam atau kayu dan digunakan permanen untuk meningkatkan mobilisasi serta untuk menopang tubuh dalam keseimbangan pasien. Misalnya: Conventional, Adjustable dan lofstrand
2.    Canes (tongkat) yaitu alat yang terbuat dari kayu atau logam setinggi pinggang yang digunakan pada pasien dengan lengan yang mampu dan sehat. Meliputi tongkat berkaki panjang lurus (single stight-legged) dan tongkat berkaki segi empat (quad cane).
3.    Walkers yaitu alat yang terbuat dari logam mempunyai empat penyangga yang kokoh digunakan pada pasien yang mengalami kelemahan umum, lengan yang kuat dan mampu menopang tubuh.



BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta keluar dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan semula sebelum hamil.Biasanya berlangsung selama lebih kurang 6-8minggu.
Setelah melahirkan ibu,mengalami perubahan fisik dan fisiologis yang juga mengakibatkan adanya beberapa perubahan psikis.Tidak heran bila ibu mengalami perubahan perilaku dan sesekali merasakn kerepotan.Masaa ini adalah masa rentan dan terbuka untuk bimbingan dan pembelajaran.
Peran bidan sangatlah dibutuhkan ibu sebagai pembimbing dan pemberi nasehat demi kesehatan ibu dan anak nya.Ibu biasanya akan mengalami atau merasakan hal-hal yang baru setelah melahirkan.Beberapa ibu setelah melahirkan akan mengalami masa-masa sulit ibu akan berpengaruh dengan lingkungan sekitarnya.Ibu akan mulai beradaptasi dengan hal yang baru seperti adanya bayi.
Tidak sedikit bayi tidak terselamatkan baik dalam waktu kehamilan,persalinan,maupun setelah dilahirkan.Ibu yang bayi nya tidak terselamatkan akan mengalami kesedihan yang mendalam.Maka dari itu bidan sangat berperan dalam masalah ini untuk memberikan asuhan kepada ibu.

DAFTAR PUSTAKA

·         Uliyah, Musrifatul & Hidayat (2008). Keterampilan Dasar Praktik untuk Kebidanan (Edisi 2). Jakarta: Salemba Medika
·         Uliyah, Musrifatul & Hidayat. (2004). Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: Buku Kedokteran EGC